Taati Hukum, Tegakkan Keadilan! Khotbah Perdana sebagai Seorang Guru Huria HKBP

Pada ibadah minggu, 16 Agustus 2026, saya berkesempatan menyampaikan khotbah di gereja yang memberangkatkan saya untuk studi di Seminari Sipoholon, yakni HKBP Paronan Nagodang. Gereja ini juga menjadi gereja di mana ayah dan ibu saya menerima pemberkatan pernikahan. Di gereja ini juga saya mengaku iman kepercayaan atau manghatindanghon haporseaon dalam Bahasa Batak.

Kesempatan yang baik ini saya sambut dengan sukacita, di mana ini merupakan khotbah pertama saya setelah ditahbiskan menjadi Guru Huria HKBP oleh Pemimpin Gereja HKBP, Ompu i Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, M.S.T.

Berdasarkan nas Yesaya 56:1-8, saya menyuarakan pentingnya mentaati hukum Allah serta menegakkan keadilan-Nya. Kedua hal ini juga ditetapkan menjadi tema, atau topik minggu sesuai yang tertera pada Almanak HKBP tahun 2026. Selain itu, saya juga mengingatkan bahwa kedua hal ini bukan hanya dikerjakan oleh bangsa Israel saja, tetapi juga oleh orang asing dan orang yang terpinggirkan sebagaimana tertulis dalam nas ini.

Fakta pada ayat 4 dan 5 bahwa kepada orang kebiri sekalipun Allah memberikan tempat dalam rumah-Nya menegaskan bahwa tidak ada lagi sekat antara bangsa Israel dan bukan Israel, termasuk dalam melakukan perintah Allah sebagaimana dinyatakan lewat tema atau topik minggu tadi.

Kepada orang asing pun Allah juga berkenan. Tetapi dengan satu kalimat bergarisbawah; bahwa mereka haruslah melayani Tuhan, mengasihi nama-Nya dan menjadi hamba-hambaNya, serta memelihara Sabbat-Nya. Pada akhirnya, Allah akan berkenan kepada korban-korban mereka itu dan rumah-Nya, yang adalah rumah doa segala bangsa, juga menjadi tempat bagi mereka.

Dalam perbandingannya, saya menawarkan bagi jemaat bahwa kita pun, orang-orang dari berbagai suku di negara kita ini, secara khusus di daerah kita ini, juga adalah orang-orang yang terpanggil untuk mendapat bagian dan tempat di dalam rumah Allah. Dengan pemanggilan itulah kita dimampukan untuk selanjut-Nya menjadi hamba Tuhan, memuji nama-Nya dan yang lainnya sebagaimana dijelaskan tadi.

Tak lupa, saya juga memperbandingkan nas khotbah Yesaya tadi dengan nas epistel pada Galatia yang menegaskan bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Yunani dan Ibrani, miskin dan kaya dan sebagainya. Ketidakadaan perbedaan itu terjadi karena Allah telah menjadikan semua orang yang memiliki kepercayaan untuk menjadi anak-anak-Nya.

Sebagaimana kita mengimani diri kita sebagai orang yang percaya sejak kita dibaptis lalu mengaku iman percaya, kita pun diikutsertakan oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Oleh karena itulah, saya pada akhirnya menegaskan bahwa iman kitalah yang ingin dibangun lewat khotbah ini, yang mana iman itulah yang menunjukkan diri kita sebagai anak Allah dan yang akan mendorong kita melakukan sesuai dengan tema minggu tadi: mentaati hukum Allah, dan menegakkan keadilan-Nya.

Amin.

0 Komentar

Terbaru