Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon — atau biasa disebut sebagai STGH HKBP Sipoholon, STGH HKBP, atau STGH — adalah salah satu perguruan tinggi teologi di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Teologi HKBP.
Kampus teologi yang juga dikenal sebagai Seminari Sipoholon ini beralamat di Komplek Seminarium, Desa Simanungkalit, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatra Utara.
Secara historis STGH HKBP merupakan kelanjutaan dari Seminarium Pansurnapitu yang berdiri pada tahun 1901 di Pansurnapitu, Kecamatan Siatas Barita. Oleh karenanya, tahun 1901, tepatnya Desember 1901 selalu diperingati sebagai tahun lahir STGH HKBP, dan dalam beberapa tahun terakhir, Perayaan Dies Natalis selalu diikutsertakan pada saat Kegiatan Upacara Wisuda setiap tahunnya.
Sejak tahun 1946 seminari ini dikenal sebagai Sekolah Guru Huria (SGH), sebelum berubah nama pada tahun 2007 menjadi Sekolah Tinggi Guru Huria dengan jenjang setara Diploma IV, kemudian menjadi setara Strata I pada tahun 2012 dengan gelar akademik Sarjana Pendidikan Kristen (S.Pd.K). Menyusul penyederhanaan gelar akademik yang berkaitan dengan Sarjana Pendidikan, gelar lulusan STGH HKBP pun berubah dan disederhanakan menjadi Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Selama penulis menjalani studi di Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP, seminari tersebut dipimpin oleh Ketua Pdt Demak Simanjuntak yang kemudian meninggal dunia pada tahun 2020. Pdt Demak kemudian digantikan oleh Pdt Manaek Simanungkalit sejak tahun 2021. Tahun tersebut menjadi tahun terakhir penulis menjalani studi, hingga wisuda pada Desember 2022. Pada pertengahan tahun 2026, merujuk pada berita yang dimuat dalam situs resmi HKBP, Pdt Arthur Lumbantobing dilantik sebagai Ketua STGH HKBP yang baru.
Sebagaimana tertera pada namanya, Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon bertugas mendidik para mahasiswanya untuk menjadi bakal-bakal Calon Guru Huria HKBP. Selain itu, setelah proses pengurusan borang-borang akreditasi yang telah dikerjakan beberapa tahun terakhir ini, lulusan STGH HKBP Sipoholon juga dapat berkarier sebagai guru di sekolah, yakni guru bidang studi Pendidikan Kristen, sebagaimana merupakan gelar akademik yang diperoleh oleh para lulusan.
Sebagai bagian dari hasil akreditasi tersebut di atas, proses studi di Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon juga telah mengikuti standard kurikulum Pendidikan Kristen yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, sehingga waktu tempuh studi, yang sebelumnya (tahun 2012 - 2017) selama 10 semester, atau lima tahun, menjadi 8 semester, atau empat tahun.
Selain pembelajaran teologi — sebagaimana gelar akademik lulusannya — para mahasiswa di Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon banyak belajar tentang Pendidikan Kristen, baik sejarah, teori, praktik, teknologi, model dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan Pendidikan Kristen tersebut. Selain itu, mahasiswa juga belajar tentang musik gerejawi.
Berangkat dari istilah 'Guru' yang melekat pada nama seminari ini dan pada nama tohonan yang menjadi 'output' akhir yang diharapkan dari para lulusannya, tentu para mahasiswa Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon dituntut untuk belajar menjadi guru yang baik dan mumpuni selama proses studi. Merujuk Poda Tohonan Guru Huria HKBP poin keempat, pengajaran akan Firman Allah di samping pengajaran tentang pembelajaran di sekolah menjadi tugas utama 'haguruon' yang harus diajarkan oleh seminari tertua ini kepada para mahasiswa.
0 Komentar
Silakan beri komentar berisi saran, kritik maupun pertanyaan.