Sejarah Ringkas HKBP Simaremare Jae (Tugas Laporan LPP)

Penginjilan di Horja Simaremare Jae ialah lanjutan dari Misi Pengkristenan oleh badan misi RMG dari Jerman, yang sudah berlangsung di Balige pada tahun 1881. Sekitar Mei 1883, terjadi perang di mana-mana akibat kolonialisme Belanda, di mana pasukan Belanda sudah mengepung dan menguasai wilayah Laguboti, yang kala itu mendiami wilayah tangsi yang dikenal sekarang. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Tuan Bonn yang hendak memperluas wilayah penginjilan di Tanah Batak. Ia datang dari Balige menuju Laguboti. 

Target sasaran misi Tuan Bonn kala itu ialah penduduk asli Laguboti, Onan Nagodang (kini dikenal sebagai Paronan Nagodang), Onan Sipaettua (kini dikenal Onan Laguboti), Onan siopat ari. Metode misi yang dipilih oleh Tuan Bonn ini adalah dengan menyebarkan buku New Testament (Padan Na Imbaru) yang sudah ditulis ulang dalam ejaan bahasa Batak dan aksara Batak secara gratis kepada penduduk. Kala itu Raja Ompu Tinggi Sabungan Hutajulu, mengamati gerak gerik Tuan Bonn yang tidak bertujuan memonopoli atau mengadakan kolonialisme di Laguboti, sehingga, Raja tersebut meminta Tuan Bonn untuk mengajarkan Iman Krsiten dan menetap di dekat kerajaannya.

Hingga pada akhirnya sekitar bulan Oktober 1883, Tuan Bonn akhirnya memberikan tempat yang terbuka bagi penginjilan Kristen tersebut. Waktu terus berjalan, jumlah orang batak secara khusus Marga Hutajulu dan penduduk sekitar Laguboti menjadi Kristen. Oleh karena itulah, HKBP Simaremare Jae dikenal sebagai gereja tertua di Laguboti bahkan di Distrik IV Toba sejak HKBP Balige mandiri menjadi distrik yang baru. Namun, tahun 1884 misi Kristen semakin diperluas hingga berdirilah HKBP Godung Laguboti yang sekarang menjadi huria sabungan dari HKBP Simaremare Jae ini.

Untuk penamaan gereja Simaremare Jae ialah karena pada awalnya Simaremare Jae adalah persatuan dari beberapa marga yakni Aruan, Hutajulu, dan Hutapea. Namun, letak geografis HKBP Simaremare Jae yang sekarang ialah baru sejak tahun 1899 dibawah pimpinan Tuan Steinsik, dimana Raja Polin Hutajulu mempersembahkan tanahnya untuk menjadi area pendirian gereja, karena dulunya gereja ada di hasang.


0 Komentar