"Wajah Baru" Saya di Tahun 2026: Resume 9 Tahun Studi dan Persiapan Penahbisan

Foto tersebut di atas merupakan foto hasil bantuan Artificial Intelligence (AI), di mana saya terlihat mengenakan baju parhobas atau toga pelayanan saya sebagai seorang Guru Huria HKBP. Kebetulan kemarin, selesai ibadah, belum sempat ke studio, atau mungkin pikir-pikir dulu ke studio karena mempertimbangkan biaya. Hahaha.

Namun, patut disyukuri bahwa kadang kala AI ini bisa juga berguna bagi hidup. Perihal foto studio ini misalnya. Kita tak lagi harus ke studio agar bisa memiliki potret resmi yang bisa kita cetak lantas pajang di dinding rumah atau di meja kerja. Ya, walaupun hasilnya tetap masih ada beberapa kekurangan di sana-sini. Namun cukuplah.

Yang terpenting, saya sangat bersyukur dan masih "agak belum percaya" kalau saya sudah tiba di titik ini. "Ai naung dapothu do on hape? Naung Guru Huria do au? Naung marjubah do au hape?". Pertanyaan-pertanyaan refleksif itu sering muncul di pikiran saya sebagai bagian dari rasa takjub bahwa Allah memampukan saya tiba di titik ini serta melibatkan saya dalam pelayananNya tanpa saya sadari.

Saya masih ingat betul, 2017 lalu, dengan didorong oleh orangtua dan dimotivasi oleh seorang Guru Huria di gereja saya bertumbuh, saya memutuskan untuk mendaftar ke Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Sipoholon. Bersama dengan sahabat karib saya, Salomo Tambunan, kami mendaftar dan diterima menjadi mahasiswa baru di tahun 2017 tersebut.

Cita-cita saya waktu SMA adalah jadi Guru Bahasa Inggris setelah sebelumnya saat anak-anak pengin jadi Dokter Kandungan. Maret 2017 saya mencoba mendaftarkan diri lewat  SBMPTN ke Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan (UNIMED). Saya dinyatakan "belum beruntung", alias tidak lulus.

Mempertimbangkan keadaan ekonomi orangtua, memilih memaksakan kuliah Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Swasta bukanlah keputusan yang bijak. Hingga mamak (ibu) saya pun menyodorkan brosur penerimaan STGH HKBP Sipoholon yang ia baca pada salah satu halaman Buku Parsaoran Ina yang ia dapat dari Perkumpulan Punguan Ina Sabtu Gereja.

"Dison pe ho boi do gabe guru haduan", begitu kata mamak, saya masih ingat betul. Kurang lebih artinya, "di sini pun kamu bisa jadi guru nantinya." Betul juga, sih. Memang bisa jadi Guru, Guru Huria, walaupun bukan Guru Bahasa Inggris. Biaya kuliah dan asrama yang terjangkau menjadi pertimbangan utama orangtua saya waktu itu. Saya pun mengiyakan.

Mendengar cerita saya, didampingi oleh mamak, saya pun "menghadap" Guru Roslin Sinurat, Guru Huria yang melayani di gereja kami, HKBP Paronan Nagodang. Waktu itu saya masih memanggil dia "inang". Dia senang dan menyambut baik keinginan saya, hingga mengarahkan saya untuk berjumpa dengan Pendeta Ressort agar mendampingi saya mempersiapkan berkas pendaftaran.

Waktu berjalan, saya pun ikut ujian. Saat pengumuman kelulusan, saya senang namun agak panik. Saya peringkat pertama berdasarkan nilai ujian. Orangtua saya pun senang. Nilai Bahasa Inggris saya menjadi pembeda dan pendongkrak di mana nilai saya 95 sedangkan teman-teman yang lain rata-rata 65-70.

Bahkan, saya masih ingat, salah satu dosen yang mewawancara saya berkata "kenapa tidak mendaftar ke STT?" Jawaban saya waktu itu saya rasa agak lancang: "karena brosur yang dibaca ibu saya brosur pendaftaran STGH ibu, bukan STT", demikian saya menjawab. Untunglah sang dosen hanya senyum tipis saat itu.

Seiring berjalan waktu, saya menikmati dan semakin menghidupi kehidupan saya di asrama sebagai mahasiswa seminari. Saya banyak terbantu dengan pemahaman Bahasa Inggris saya untuk membaca dan memahami buku-buku teologi dan pendidikan Kristen berbahasa Inggris yang banyak dipakai dosen sebagai rujukan untuk tugas makalah dan ujian-ujian semester.

Puji Tuhan, saya lulus tepat waktu. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saya pun tidak buruk-buruk amat. Saya dapat 3,44 waktu itu, peringkat kedua di antara teman seangkatan saya 2017. Memang lebih sulit mempertahankan daripada merebut ya. Hahahah. 

Setelah Yudisium pada Maret 2021 — berhubung masih dalam proses akreditasi saat itu — wisuda ditunda menjadi akhir tahun 2022. Tidak apa-apa, karena setelah yudisium, kami dipersilakan untuk melayani di gereja-gereja maupun lembaga sembari menunggu wisuda. Akhirnya kami wisuda 1 Desember 2022, tepat pada Ulang Tahun Seminari Sipoholon yang ke 121 tahun.

Tak lama setelah wisuda, beberapa hari kemudian, HKBP mengumumkan Ujian Penerimaan Calon Pelayan yang akan diadakan pada Februari-Maret 2023. Ujian didahului oleh pendaftaran dan pemberkasan administratif. Saya lulus administrasi dan dipanggil untuk ikut ujian pada 2023. Setelah mengikuti ujian secara tertulis dan kemudian wawancara, saya pun dinyatakan lulus sebagai Calon Guru Huria bersama dengan 32 orang lainnya.

Setelah kelulusan, kami diundang untuk mengikuti Pelatihan Kompetensi Profesi Calon Pelayan — sebuah program baru yang mendahului LPP I sebagai tahapan persiapan pembekalan sebelum diutus melayani ke jemaat dan lembaga. Pelatihan itu kami ikuti selama kurang lebih tiga bulan, yakni sejak Maret hingga akhir Juni 2023.

Setelah lulus Pelatihan dan dilanjut dengan LPP I, saya pun mendapat surat penugasan sebagai Calon Guru Huria PPL I di HKBP Laguboti, gereja sabungan atau induk dari gereja yang memberangkatkan saya HKBP Paronan Nagodang. PPL II saya kemudian ditempatkan di HKBP Simaremare Jae dan terakhir PPL III saya ditempatkan di HKBP Lancat.

Keseluruhan penugasan saya sebagai Calon Guru Huria kurang lebih saya jalani selama tiga tahun. Hingga pada akhirnya, pada Juni 2026 kami mengikuti ujian Gerejawi. Puji Tuhan, saat Pengumuman Kelulusan Ujian pada Juli 2026, saya salah satu calon pelayan yang lulus dan akan diundang mengikuti tahbisan, yakni tahbisan Guru Huria yang dilaksanakan pada 9 Agustus 2026 di HKBP Pansurnapitu, bersamaan dengan penahbisan Bibelvrouw dan Diakones.

Puji Syukur kepada Allah. Sejak medio 2017 sampai medio 2026 — tepat 9 tahun — saya tetap merasakan penyertaan dan topangan dariNya dalam berbagai tahapan yang saya lalui, di mulai dari studi, tugas akhir, ujian masuk calon pelayan, proses praktik pelayanan, hingga pada ujian gerejawi.

Saya pun bersyukur atas dorongan mamak saya serta motivasi bapak saya selama ini. Adalah sebuah kesaksian bagi saya, bahwa masuknya saya ke STGH seolah merupakan "pintu rejeki dan berkat" yang Allah bukakan bagi keluarga kami. Tepat setahun setelah saya masuk STGH, bapak lulus ujian seleksi Anggota KPU Kabupaten/Kota Periode 2018-2023.

Saya pun sadar bahwa itulah jalan Tuhan agar bapak dan mamak bisa menyekolahkan kami, saya di STGH dan adik saya yang masuk ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) setahun setelah bapak jadi anggota KPU Kabupaten Toba.

Pun saya sangat bersyukur atas kehadiran Bapauda Swandi, Inanguda Yanti, Bou Herna dan terlebih Oppung saya — yang dengannya saya berbagi nama yang sama, Parman. Mereka saya yakini sebagai alat Tuhan untuk menopang dan membantu segala proses saya selama menjalani kuliah. Barangkali saya tidak akan pernah mampu membalas kebaikan mereka. Namun biarlah Allah yang memberkati dan memelihara kehidupan mereka.

Saya juga turut bersyukur atas kehadiran sahabat, seperti Guru Salomo Tambunan, sahabat saya sejak SMA yang juga menjadi teman seangkatan saya, bahkan hingga sengkatan saat penahbisan. Namun saya berdoa, saat mengingat Calon Guru Johan Hutagaol, yang pada ujian 2023 belum beruntung, agar dengan perkenaan Tuhan boleh juga menerima tahbisan pada tahun depan.

Ingatan saya dengan penuh syukur juga kepada Bibelvrouw Mawarnita Marbun yang saat awal studi kami pernah menjadi partner. Saya bersyukur dia dan saya ikut dalam penahbisan di hari yang sama. Kami juga sempat berswafoto. Pun kepada Diakones Desra Ivana Sihombing yang telah banyak membersamai saya dalam pelayanan dan cerita sehari-hari selama PPL I dan PPL II. Hingga pada Diakones Ribka Tarigan yang pada akhir-akhir ini, kami seolah menemukan jalan masing-masing untuk kembali.

Tak lupa, saya pun bersyukur atas kehadiran Kak Roslin, Guru Huria kami yang dulunya saya panggil inang. Dia menjadi motivator selama studi saya. Saya masih ingat, dalam berbagai kesempatan, saya dipersilakan untuk ikut terlibat dalam pelayanan kategorial Remaja dan Pemuda agar menambah pengalaman saya dalam pelayanan gereja. Pun untuk berkhotbah di ibadah minggu dan ibadah natal, saya dipersilakan. "Asa lam malo ho, dek", begitu dia selalu berkata, yang kurang lebih artinya supaya saya lebih "pintar".

Tak lupa kepada Pendeta Tumpal Sinaga yang membantu saya selama proses pendaftaran dan studi, juga Pendeta Lintong Sitorus yang menjadi mentor saya selama PPL I dan PPL II di Ressort Laguboti. Dia banyak memberikan saya pesan dan pembelajaran berharga. Ompung Pendeta Parasian dan Ompung Pendeta Tumpak juga banyak memberi teladan baik bagi saya selama pelayanan.
 
Pada akhirnya, saya bersyukur atas diri saya sendiri. Tuhan begitu sayang kepada saya. Saya pun haruslah demikian pada diri saya sendiri. Terima kasih karena tidak memaksakan kehendak untuk menjadi Guru Bahasa Inggris. Guru Huria bahkan ternyata bisa mengajarkan Bahasa Inggris di samping pelajaran Agama Kristen.

Kiranya Tuhan yang telah melibatkan saya — sebagaimana yang dipesankan Ompu i Ephorus tentang pelayanan dan penglibatan Allah — juga memampukan saya dalam mengemban tugas yang berat namun mulia ini.

Amen.

Pansurnapitu, 9 Agustus 2026

1 Komentar

Silakan beri komentar berisi saran, kritik maupun pertanyaan.

Terbaru