"Mangoloi" Berarti Melayani, Bukan (Hanya) Mengiyakan: Makna Kata "Mangoloi" dalam Teks Wahyu 7:9-17

Pada berbagai acara adat Batak, akan selalu ada beberapa orang yang membantu mengerjakan beberapa hal bagi hasuhuton (tuan rumah acara adat), seperti menyiapkan makanan, menyiapkan tempat acara, dan sebagainya. 

Inilah yang disebut dengan istilah "marhobas", yang memiliki akar kata "hobas" yang artinya siap sedia atau menyiapkan. Kata ini juga sejajar dengan kata melayani dalam Bahasa Indonesia dan to serve dalam Bahasa Inggris.

Kata "marhobas" sendiri umumnya dipakai dalam dialek Batak Toba. Sedangkan dalam Batak Angkola, kata yang dipakai adalah "mangoloi". Dari beberapa pengalaman dan pengamatan saya, kata inilah yang sejajar dengan kata "marhobas" dalam dialek Batak Toba. Kata "mangoloi" sendiri dalam dialek Batak Toba memiliki arti "mengiyakan" atau "menyetujui". Tentu ada perbedaan makna di sana.

Pada teks Alkitab yang dipakai sebagai epistel pada Minggu ke-5 setelah Trinitatis, yakni Wahyu 7:9-17, kita dapat menemukan kata "mangoloi" tadi tepatnya pada ayat 15. Menariknya, jika dilihat dari teks aslinya dalam Bahasa Yunani, kata yang dipakai adalah kata latreuo yang artinya melayani atau to serve atau "marhobas" dalam pemahaman dialek Batak Toba, bukan "mengiyakan" atau "menyetujui".

Dengan mengingat bahwa Ompu i Nommensen — penginjil Batak sekaligus Ephorus HKBP pertama dan juga penerjemah Alkitab Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak — lebih dulu hadir di wilayah Angkola, kemungkinan besar bahasa yang dipakai pun sedikit banyak akan dipengaruhi oleh dialek Batak Angkola.

Menurut saya, itulah kemungkinan yang melatarbelakangi penggunaan kata "mangoloi" sebagai kata yang sepadan dengan kata "marhobas" dalam dialek Batak Toba pada nas Wahyu tersebut di atas. Dengan demikian, makna kata "mangoloi" di sana haruslah dipahami sebagai kata yang berarti marhobas, melayani atau to serve, bukan mengiyakan atau to agree.

Berangkat dari pemahaman dan pengamatan sederhana tentang "marhobas" dan "mangoloi" yang saya lihat pada acara adat Batak Angkola tersebutlah saya pun berkesimpulan seperti di atas, bahwa mangoloi artinya marhobas atau melayani, bukan semata-mata hanya mengiyakan seperti pemahaman dialek Batak Toba tentang kata mangoloi.

Oleh sebab itu, patutlah kita menjadi orang-orang yang melayani menurut firman Tuhan dalam teks Wahyu ini. Kita diajak tidak hanya semata-mata mengiyakan atau setuju dengan Allah. Lebih dari itu, kita dimampukan untuk ikut terlibat dalam pekerjaan pelayanan-Nya.

Jika meminjam istilah lain untuk kata hobas yang bermakna kata sifat, marilah kita menjadi jemaat Allah yang "hibas" dalam "marhobas". Marilah kita menjadi pribadi yang selalu sedia dan terampil serta taat untuk melayani berbagai pekerjaan Allah demi kemuliaan Nama-Nya.

Amen.

0 Komentar